Minggu, 13 Januari 2013

KORUPSI IKUT EMANSIPASI


Emansipas ialah istilah yang digunakan untuk menjelaskan sejumlah usaha untuk mendapatkan hak politik maupun persamaan derajat antara kaum adam dan kaum hawa. Perkembangan emansipasi perempuan di Indonesia beberapa tahun belakangan ini patut diapresiasi. Namun tragisnya, emansipasi tersebut juga terjadi dalam beberapa kasus korupsi yang selama ini kebanyakan dilakukan oleh kaum adam.
Pandangan kaum hawa yang dikenal lemah lembut, tidak agresif, dan lebih cenderung malu- malu daripada kaum adam, terlukai oleh beberapa kasus korupsi yang belakangan ini terkuak dihadapan publik. Diantaranya dari kasus Nunun Nurbaetie, Miranda Gultom dan yang paling anyar adalah kasus korupsi yang dilakukan oleh Angelina Sondakh.
Fenomena kasus korupsi tersebut dapat diisaratkan bahwa kaum hawa dapat berubah menjadi sosok yang egois, serakah dan hanya ingin mementingkan keinginannya. Hal ini tentu saja bukan kabar yang menggembirakan. Emansipasi kaum hawa terhadap kaum adam yang diperjuangkan oleh R.A. Kartini dimaksudkan sebagai kesetaraan dalam hal-hal yang posistif. Persamaan dalam hal mendapatkan hak dan kedudukan, persamaan untuk mendapat pendidikan yang sederajat serta memperoleh kesempatan berkembang yang sama. Adakah yang mengakibatkan kaum hawa menjadi pelaku korupsi? Apakah faktor lingkungan? Atau faktor gaya hidup yang hedonis? Pertanyaan- pertanyaan itu kerap kali muncul disetiap kasus- kasus korupsi yang dilakukan oleh kaum hawa.
Dengan banyaknya kasus korupsi saat ini, kaum hawa seharusnya justru menjadi pihak yang berperan besar dalam mencegah terjadinya korupsi. Bukan malah yang mendalangi sebuah kasus korupsi. Kaum hawa wajib mengingatkan dan melarang para suami untuk tidak melakukan tindak pidana korupsi . Kaum hawa  juga harus berpikir untuk tidak menuntut terlalu banyak kepada suami dan merubah gaya hidup yang hedonis, agar para suami tidak terdorong untuk berkorupsi.
Jadi, para kaum hawa jangan salah menafsirkan kata emansipasi. Emansipasi dimaksudkan sebagai kesetaraan dalam hal-hal yang posistif. Persamaan dalam hal mendapatkan hak dan kedudukan, persamaan untuk mendapat pendidikan yang sederajat serta memperoleh kesempatan berkembang yang sama. Bukan persamaan dalam bidang korupsi.
 Ahmad Hamid Endarta Putra

Jumat, 21 Oktober 2011

3 Cara Luncurkan Bisnis Baru

Bagi entrepreneur yang bersemangat untuk maju, persiapan yang matang ialah sebuah unsur penting dalam memulai bisnis yang bisa mempertinggi peluang keberhasilan dalam pasar yang kian kompetitif.

Saat menyiapkan usaha baru, Anda harus menentukan apakah ada pasar yang bisa digarap di luar sana untuk barang/ jasa yang hendak Anda jual, bedakan diri Anda dari pesaing dan kumpulkan pelanggan potensial sebanyak mungkin.

Berikut ialah kiat dari 3 entrepreneur andal tentang strategi untuk menyukseskan peluncuran bisnis baru berdasarkan pengalaman mereka seperti dilansir dari Entrepreneur.com:

Kiat #1 : Tempatkan diri Anda sebagai pakar

Di tahun 2004, Judy Katz menyadari bahwa setelah dua dekade memiliki perusahaan humas kecil bernama Katz Creative Inc. di New York, ia siap untuk menjalani impiannya di dunia ghostwriting.

Ia tetap menjalankan perusahaannya itu tetapi juga memulai berkomunikasi dengan intens dengan kelompok-kelompok lain seperti National Association of Women Business Owners jika ia bisa memberikan sebuah ceramah tentangghostwriting di depan para anggotanya. Ia pun mulai mengadakan penelitian tentang topik yang dimaksud dan berbicara dengan para ghostwriter yang ia ketahui. Karena ia sudah terkenal sebagai pakar komunikasi, itu bukan hal yang terlalu sulit. “Saya sudah berbicara di berbagai tempat dan acara sehingga orang-orang akan menghubungi saya untuk berbicara tentang apa yang diperlukan untuk menulis sebuah buku,” kata Katz yang berusia 60-an.

Ia memberikan banyak sekali ceramah pada anggota kelompok tadi mengenai bagaimana menyewa jasa seorang ghostwriter. Ia menjelaskan proses perekrutannya, struktur biaya standar, dan bagaimana memublikasikan buku yang telah ditulis oleh ghostwriter bisa membantu meningkatkan perkembangan karir orang yang bersangkutan.

Ia menghabiskan sekitar 1000 dollar AS untuk biaya transportasi, dan dalam beberapa bulan saja, seorang eksekutif Wall Street bertanya kepadanya untuk menuliskan buku tentang biografinya. Sejak saat itu, ia telah menelurkan 24 buku sebagai ghostwriter dengan nilai bayaran sekitar 50.000 hingga 100.000 dollar AS per buku.

Kiat #2: Mengumpulkan umpan balik dengan landing page

Saat saudara ipar Rami Weiss tidak bisa menemukan informasi yang bisa diandalkan di dunia maya tentang fasilitas untuk para warga manula di Kota New Jersey, Weiss berpikir untuk memulai mendirikan sebuah jaringan online yang bermanfaat bagi manula. Namun sebelum terjun, Weiss yang berusia 31 tahun ini membuat sebuah landing page (laman di internet di mana orang bisa membaca informasi) yang memuat rencananya, topik yang disarankan dan meliputi formulir kontak yang memuat umpan balik. “Kami berbicara tentang mengapa kami berbeda dari yang lain di pasar ini,” kata Weiss.

Weiss kemudian memasang iklan pay-per-click di Google untuk lebih dari 100 istilah pencarian, seperti ‘perencanaan pensiun’ dan ‘perawatan untuk orang tua usia lanjut’ untuk menarik pengunjung. Ia membelanjakan sekitar 700 dollar AS untuk iklan dan landing page.

Dalam beberapa bulan saja, hampir 3.000 pengunjung situs memberikan umpan balik, yang meliputi saran untuk forum dan kolom online dengan nasihat ahli. Ia memutuskan untuk mengijinkan masuknya konten dari pihak ketiga seperti majalah nasional yang menulis tentang masalah-masalah perawatan manula.

Weiss membuat orang bergabung dengan membuat mereka merasa membutuhkan ‘gengsi’ sebagai bagian dari perkumpulan eksklusif dan bisa membantu meraih tujuan. Ia berkata mereka akan diberitahu tentang pembaruan situs dan diminta memberikan masukan tentang berbagai macam ide.

Akhirnya Boomerater.com diluncurkan tahun 2009 dan kini menerima 80 ribu hingga 100 ribu kunjungan per bulannya sementara ia menghasilkan pemasukan melalui fasilitas warga manula yang beriklan di situsnya.

Kiat #3: Berikan sampel gratis

Saat berada di Johannesburg, Afsel tahun 2005, Selena Cuffee mengunjungi sebuah festival yang menampilkan pembuat anggur di Soweto, sebuah wilayah kumuh dan miskin di Afsel. Hal itu memberikan Cuffe sebuah ide untuk mendirikan sebuah usaha yang bisa membantu para pembuat anggur Afrika menjual produknya di AS.

Ia menikmati anggur tersebut tetapi penasaran jika pakar anggur AS akan menerima. Sehingga Cuffe menghubungi toko anggur dan restoran di kota-kota besar AS termasuk Chicago dan Washington, D.C. Ia menjelaskan ide bisnisnya dan diminta untuk menjadi pemandu acara dalam acara mencicipi anggur. Cuffe juga menempatkan iklan di Craigslist untuk merekrut para penguji yang sesuai dengan segmen konsumen yang dibidik: manula, wanita dan warga Afro-Amerika.

“Orang mulai merespon dan kami bahkan harus menyusun sebuah daftar tunggu,” kata Cuffe yang meluncurkan Heritage Link Brands dengan suaminya di Los Angeles tahun 2007.

Ia memperkirakan dibutuhkan 3.000 dollar AS untuk menguji idenya itu, termasuk pengeluaran perjalanan, biaya iklan Craigslist, roti dan air untuk para pencicip. Ia bermalam di rumah teman jika memungkinkan untuk menekan pengeluaran. Saat diuji, anggur-anggur tersebut diberi nilai dari skala 1 hingga 10 untuk aspek rasa dan pengemasan. Cuffe hanya mengimpor anggur asing yang bisa melampaui nilai 8. Akhirnya jenis anggur yang ia akan impor menjadi 3 jenis saja.

Heritage Link Brands kini mengimpor 10.000 peti berisi anggur Afrika ke AS setiap tahun yang dijual ke berbagai toko di seluruh penjuru Amerika. Perusahaan mengharapkan pemasukan sekitar 1 juta dollar AS di tahun 2011. (*/Akhlis)

Cara Masuk Surga Tanpa Hisab dan Tanpa Adzab

Pembaca yang dimuliakan oleh Allah ta’ala, kebahagiaan yang hakiki dalam hidup ini adalah ketika seorang hamba dijauhkan oleh Allah ta’ala dari siksa api neraka dan ketika Allah memasukkannya ke dalam surga-Nya. Allah ta’alaberfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia telah memperoleh kemenangan, dan bukanlah kehidupan dunia melainkan kehidupan yang menipu.” (QS. ‘Ali Imran : 185) Syaikh As Sa’diyrahimahullah mengatakan, “Orang yang memperoleh kemenangan adalah mereka yang selamat dari adzab yang pedih, dia bisa menikmati berbagai macam kenikmatan di surga. Kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata manusia sebelumnya, belum pernah didengar oleh telinga manusia, dan belum pernah terlintas di dalam hati manusia.” Demikianlah seharusnya orientasi kehidupan seorang muslim, menjadikan kebahagiaan akhirat sebagai puncak cita dan harapannya.

Tauhid, Kunci Kebahagiaan Manusia

Setelah kita mengetahui bahwa kabahagiaan yang hakiki adalah kebahagiaan akhirat, yaitu ketika manusia menikmati kenikmatan surga, sudah selayaknya kita memahami apa sarana yang dapat menghantarkan seseorang menuju surga dengan berbagai kenikmatan yang ada di dalamnya.

Saudaraku, ketahuilah bahwa kunci kebahagiaan tersebut adalah tauhid, menyerahkan segala bentuk ibadah hanya kepada Allah ta’ala semata. Barangsiapa yang dapat merealisasikan tauhid dalam seluruh perjalanan hidupnya, dan menjauhi kesyirikan maka sungguh dia adalah orang yang memperoleh kemenangan yang besar.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Yaitu orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan dengan kedzoliman (kesyirikan), mereka lah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mendapatkan petunjuk” (Al An’am:82)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ketika beliau menerangkan hakikat hak Allah kepada shahabat Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, “Sesungguhnya hak Allah yang wajib dipenuhi hambanya adalah hendaklah mereka beribadah kepada Allah semata dan tidak berbuat kesyirikan sedikit pun, dan hak hamba yang akan dipenuhi oleh Allah, adalah Allah tidak akan mengadzab orang-orang yang tidak berbuat kesyirikan

Syaikh As Sa’diy rahimahullah menjelaskan bahwa diantara keutamaan orang yang merealisasikan tauhid adalah terbebasnya ahli tauhid dari kekekalan siksa neraka, bisa jadi orang tersebut disiksa di neraka untuk menghapus dosa-dosanya, namun tidak selama-lamanya. Tetapi jika ahli tauhid mampu merealisasikan tauhid dengan sebenar-benarnya, maka niscaya Allah ta’ala akan menjaga dirinya dari siksa api neraka secara sempurna.

Kesempurnaan tauhid yang terpateri dalam hati seorang ahli tauhid akan memerdekakannya dari penghambaan diri dan ketergantungan hati kepada makhluk, akan membebaskan diri dari rasa takut dan berharap kepada makhluk. Inilah hakikat dari kemuliaan seorang manusia.[5] Hanyalah kepada Allah, seorang ahli tauhid akan menghambakan diri dan menggantungkan hatinya.

[Hakikat Merealisasikan Tauhid]

Seorang hamba yang merealisasikan tauhid maknanya adalah mensucikan diri dari segala cabang-cabang kesyirikan, bid’ah dan kemaksiatan.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullahu menjelaskan secara ringkas bahwa makna ‘merealisasikan tauhid’ adalah membersihkan diri dari noda-noda kesyirikan. Ini tidak akan pernah terwujud dalam diri hamba melaikan terpenuhi tiga perkara: Al Ilmu (mengetahui makna tauhid), Al I’tiqod (meyakini kandungan tauhid) danAl Inqiyad (tunduk terhadap konsekuensi-konsekuensi tauhid). Jika ketiga hal tadi telah terwujud dan terbukti secara nyata pada seseorang (secara umum) maka masuk surga tanpa hisab menjadi jaminan bagi dirinya.

[Lihatlah Balasan bagi Sang Perealisasi Tauhid]

Saudaraku, diantara balasan orang yang merealisasikan tauhid adalah masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Ibnu ‘Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- mengatakan,Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, dalam hadits yang panjang:

“Telah diperlihatkan kepada diriku umat-umat manusia. Aku melihat seorang Nabi yang bersamanya beberapa orang dan bersamanya satu dan dua orang, serta seorang Nabi yang tidak ada seorang pun bersamanya. Tiba-tiba ditampakkan kepada diriku sekelompok manusia yang berjumlah banyak, dan aku pun mengira bahwa mereka adalah umatku. Tetapi dikatakan kepadaku, ‘Ini adalah Musa bersama kaumnya’. Lalu tiba-tiba aku melihat sekelompok manusia yang banyak pula. Kemudian dikatakan kepadaku ini adalah umatmu, dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab”.

Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan bergegas masuk ke dalam rumahnya. Maka para shahabat mulai membicarakan siapakah mereka itu. Di antara mereka ada yang mengatakan, ‘Mungkin mereka adalah orang-orang yang menjadi shahabat Rasulullah’. Ada lagi yang mengatakan, ‘Mungkin mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam lingkungan Islam, sehingga mereka tidak pernah berbuat kesyirikan’. Dan ada di antara mereka yang menyebutkan kemungkinan lainnya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dan menemui mereka dan menjelaskan, “Mereka adalah orang-orang tidak meminta diruqyah, tidak meminta diobati dengan cara kai (menempel luka dengan besi panas), tidak melakukan tathayur, dan mereka adalah orang-orang yang bertawakal kepada Rabb mereka (HR.Bukhari 5705, 6541 dan Muslim 220)

[Makna Istirqa’ (Meminta untuk Diruqyah oleh Orang Lain)]

Ruqyah adalah bacaan-bacaan tertentu untuk perlindungan yang dibacakan kepada seseorang yang menderita penyakit, semisal penyakit demam, penyakit ayan dan penyakit yang lainnya.[8] Pada asalnya, ruqyah adalah sebagaimana cara pengobatan pada umumnya. Ada beberapa syarat yang harus ada agar ruqyah tersebut tergolongruqyah yang disyariatkan.

Diantara syarat-syarat ruqyah yang disyari’atkan adalah: [1] Tidak meyakini bahwaruqyah tersebut mampu menyembuhkan dengan sendirinya, tanpa izin dari Allah ta’ala. [2] Tidak mengandung kata-kata yang menyelisihi syariat, semisal lafadz-lafadz doa kepada selain Allah, meminta bantuan kepada jin dan yang semisalnya. [3] Lafadz-lafadz ruqyah hendaklah dapat dipahami maknanya.

Adapun ruqyah yang tidak memenuhi syarat di atas, maka merupakan ruqyah yang terlarang, bisa menjadi sarana kesyirikan atau bahkan bisa termasuk ke dalam syirik besar.

Ibnul Qayyim, menukil perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallahu, menjelaskan bahwa yang terlarang adalah meminta untuk diruqyah oleh orang lain. Karena pada diri orang yang meminta diruqyah, terdapat kecondongan dan penyandaran hati kepada selain Allah ta’ala. Adapun jika kita meruqyah orang lain, maka hal ini tidak termasuk dalam larangan makruh ini. Sebagaimana Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meruqyah diri beliau sendiri, demikian pula Malaikat Jibril pernah meruqyah beliau, demikian pula para shahabat juga pernah meruqyah.

[Makna Pengobatan Kai]

Pengobatan kai adalah pengobatan dengan cara menempelkan besi panas pada luka dengan tujuan agar darah yang keluar dari luka cepat mengering dan berhenti.

Ibnul Atsir rahimahullahu membawakan pendapat bahwa hukum pengobatan kaiadalah terlarang jika digunakan sebagai media pencegahan penyakit, namun hukumnya mubah ketika ada kebutuhan.[14] Hanya saja, seseorang yang tidak meminta diobati dengan cara kai, menunjukkan adanya kesempurnaan tawakal kepada Allah ta’ala.



[Makna Tathayur]

Ibnu Atsir rahimahullahu dalam kitabnya An Nihayah menjelaskan, tathayur adalah merasa sial terhadap sesuatu, yang karenanya dia membatalkan niat untuk melakukan aktivitasnya. Tathayur diambil dari kata ‘thairun’ (Indonesia: burung), karena orang arab biasa beranggapan sial atau merasa beruntung dengan mengaitkannya dengan burung. Ketika hendak safar, dalam rangka ‘penunjuk jalan’, mereka menggertak burung, jika burung terbang ke arah kanan maka mereka meneruskan perjalanannya , tetapi jika burung ke arah kiri, maka mereka membatalkan perjalanan mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik, tidak ada seorang pun di antara kita melainkan (dalam hatinya terdapat hal ini), hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakalnya” (Thiyarah -dalam bahasa arab- adalah bentuk jamak dari tathayur)

Tathayur adalah perkara yang terlarang dalam agama Islam, karena tathayurmenyebabkan berkurangnya kemurnian tauhid seseorang. Seseorang yang melakukantathayur maka dia telah bertawakal dan menyandarkan hatinya kepada selain Allahta’ala, dan dia telah melakukan sebab yang pada hakikatnya tidak ada kaitan dan hubungannya sama sekali dengan keinginannya.

[Tawakkal hanya kepada Allah ta'ala Semata]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa sifat yang terakhir dari orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azdab adalah bertawakal kepada Allahta’ala. Inilah pangkal dari segalanya. Tawakal adalah penyandaran hati dengan sebenarnya kepada Allah ta’ala dalam mewujudkan kebaikan dan dalam menangkal bahaya, dengan diiringi usaha-usha yang diijinkan dalam syari’at Islam.

Sebab utama yang menghantarkan seseorang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab, adalah adanya kesempurnaan tauhid pada dirinya. Karena kesempurnaan tauhid dan penyandaran hati kepada Allah itulah, mereka enggan untuk memintaruqyah, meminta di-kay kepada orang lain, karena pada hakikatnya perbuatan semacam itu sangat besar kemungkinan hilangnya tawakal kepada Allah ta’ala dalam dirinya.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya): “Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).”(Ath Tholaq : 3).

[Tawakkal pun Membutuhkan Usaha]

Bukanlah maksud hadits di atas, seseorang tidak perlu berusaha dalam mewujudkan keinginannya, hanya berpangku tangan menunggu pertolongan Allah datang. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu menjelaskan bahwa, tawakal harus memenuhi dua hal, yaitu [1] Penyandaran hati yang sebenarnya kepada Allah ta’ala, [2] Melakukan sebab-sebab yang diijinkan dalam syari’at.

Kedua hal tersebut harus beriringan, tidak boleh seseorang bersandar kepada Allah tanpa ada usaha sedikit pun, atau melakukan usaha tanpa menyandarkan hati kepada Allah ta’ala. Ibnul Qayyim rahimahullahu mengatakan, ”Barang siapa yang meniadakan sebab dalam usahanya, maka hal ini menunjukkan kecacatan tawakalnya, barang siapa yang tidak berusaha maka hanya akan menjadikan harapannya sebatas angan-angan semata.”

Semoga Allah ta’ala menjadikan kita sebagai bagian dari barisan muwahhidin (ahli tauhid), yang mendapatkan janji dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk surga tanpa adzab dan tanpa hisab. Amiin